Produksi Dan Penyulingan Minyak Kayu Putih dan Serai Oleh KUPS Di Desa Laban Nyarit
Di balik lebatnya hutan Desa Laban Nyarit, Kecamatan Malinau Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, masyarakat kini mulai menemukan sumber penghidupan baru dari hasil hutan bukan kayu. Jika dahulu masyarakat hanya bergantung pada penjualan bahan mentah hasil hutan dengan harga rendah, kini mereka berhasil mengembangkan usaha penyulingan minyak atsiri seperti minyak kayu putih dan minyak serai melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Gaharu. Kegiatan ini menjadi salah satu contoh nyata keberhasilan program perhutanan sosial dalam meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian hutan.

Desa Laban Nyarit memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, terutama tanaman hutan yang mengandung aroma alami dan dapat diolah menjadi minyak atsiri. Potensi tersebut kemudian dikembangkan oleh masyarakat melalui KUPS Gaharu yang terbentuk sejak tahun 2020. Kelompok ini awalnya hanya fokus pada pengelolaan gaharu, namun seiring berkembangnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, berbagai tanaman lain seperti kayu putih, serai, mulai diolah menjadi minyak atsiri bernilai ekonomi tinggi.
Keberadaan KUPS Gaharu tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Malinau, Bank Indonesia Kalimantan Utara, hingga Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi yang selama ini aktif mendampingi masyarakat desa dalam program perhutanan sosial. Pendampingan tersebut mencakup pelatihan penyulingan, pengelolaan hasil hutan bukan kayu, pemasaran produk, hingga penguatan kelembagaan kelompok usaha masyarakat.

Sebelum adanya program pengolahan minyak atsiri, masyarakat Desa Laban Nyarit umumnya hanya menjual bahan baku mentah berupa totok gaharu atau daun aromatik kepada pengepul dengan harga murah. Totok gaharu tanpa resin misalnya, hanya dihargai sekitar Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram. Harga tersebut dianggap belum mampu memberikan kesejahteraan yang cukup bagi masyarakat karena proses pengambilan bahan baku dari hutan membutuhkan tenaga besar dan risiko yang tidak kecil.
Melihat kondisi tersebut, masyarakat mulai berupaya meningkatkan nilai tambah hasil hutan melalui proses hilirisasi produk. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memproduksi minyak atsiri dari berbagai tanaman aromatik yang tersedia di sekitar desa. Minyak kayu putih dan minyak serai menjadi produk unggulan karena memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi sebagai bahan aromaterapi, essential oil, parfum, hingga bahan pengobatan tradisional.
Proses produksi minyak kayu putih dan serai dilakukan secara bertahap dan masih menggunakan metode tradisional yang dipadukan dengan bantuan teknologi sederhana. Tahap pertama dimulai dari pengumpulan bahan baku. Daun kayu putih dan tanaman serai diperoleh dari kebun masyarakat maupun kawasan hutan desa yang dikelola secara berkelanjutan. Pengambilan bahan dilakukan secara selektif agar tanaman tetap dapat tumbuh dan dipanen kembali di masa mendatang. Pendekatan ini penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan sekaligus memastikan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan.
Setelah bahan baku terkumpul, tahap berikutnya adalah proses pencacahan. Daun kayu putih dan serai dicacah menggunakan mesin pencacah agar ukuran bahan menjadi lebih kecil dan memudahkan keluarnya kandungan minyak saat proses penyulingan berlangsung. Mesin pencacah yang digunakan merupakan bagian dari bantuan alat ekonomi produktif yang diterima KUPS Gaharu dari Bank Indonesia dan beberapa instansi terkait.
Bahan yang telah dicacah kemudian dijemur selama beberapa hari untuk mengurangi kadar air. Proses pengeringan ini sangat penting karena kadar air yang terlalu tinggi dapat menurunkan kualitas minyak atsiri yang dihasilkan. Masyarakat biasanya menjemur bahan menggunakan tikar rotan di bawah sinar matahari langsung. Teknik sederhana ini dianggap efektif dan masih sesuai dengan kondisi desa yang memiliki akses terbatas terhadap teknologi modern.
Tahap inti dalam produksi minyak atsiri adalah proses penyulingan atau distilasi. Dalam proses ini, bahan baku dimasukkan ke dalam ketel penyuling berkapasitas sekitar 50 kilogram. Ketel tersebut kemudian dipanaskan menggunakan tungku hingga menghasilkan uap panas. Uap tersebut akan membawa kandungan minyak atsiri dari daun kayu putih maupun serai menuju pipa pendingin atau kondensor. Setelah mengalami pendinginan, uap berubah menjadi cairan campuran air dan minyak atsiri.
Selanjutnya dilakukan proses pemisahan menggunakan separator untuk memisahkan minyak dari air hasil kondensasi. Minyak atsiri murni yang diperoleh kemudian disimpan dalam wadah tertutup agar kualitas aroma dan kandungan kimianya tetap terjaga. Minyak kayu putih yang dihasilkan memiliki aroma khas hangat dan segar, sedangkan minyak serai memiliki aroma tajam yang umum digunakan sebagai bahan aromaterapi dan pengusir serangga alami.
Dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi, KUPS Gaharu memperoleh bantuan seperangkat alat penyulingan dari Bank Indonesia Kalimantan Utara. Bantuan tersebut terdiri dari dua ketel kapasitas 50 kilogram, dua kondensor, mesin pencacah daun, separator, tungku, manometer, safety valve, dan cerobong asap. Kehadiran alat tersebut memberikan perubahan besar bagi masyarakat karena proses produksi menjadi lebih cepat, efisien, dan mampu menghasilkan minyak dengan kualitas lebih baik.
Menurut pendamping KKI Warsi, hampir semua tanaman hutan yang memiliki aroma dapat diekstrak menjadi minyak atsiri. Kalimantan memiliki banyak tumbuhan endemik yang berpotensi dikembangkan menjadi produk essential oil bernilai tinggi. Namun selama ini masyarakat belum banyak mengetahui potensi tersebut. Oleh sebab itu, pelatihan dan pendampingan menjadi langkah penting agar masyarakat mampu memanfaatkan kekayaan hutan secara optimal tanpa merusaknya.
Keberhasilan produksi minyak kayu putih dan serai di Desa Laban Nyarit mulai memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Produk minyak atsiri memiliki nilai jual jauh lebih tinggi dibandingkan bahan mentah. Bahkan minyak gaharu berkualitas tertentu dapat dijual hingga ratusan ribu rupiah per gram karena digunakan sebagai bahan parfum premium di pasar Timur Tengah. Walaupun minyak kayu putih dan serai memiliki harga lebih rendah dibanding gaharu, permintaan pasar terhadap produk tersebut cukup stabil dan terus berkembang.
Selain meningkatkan pendapatan, usaha penyulingan minyak atsiri juga membuka lapangan pekerjaan baru di desa. Banyak warga terlibat dalam proses pengumpulan bahan baku, pencacahan, pengeringan, penyulingan, hingga pengemasan produk. Kegiatan ini secara tidak langsung membantu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap aktivitas eksploitasi hutan yang merusak lingkungan.
Ketua KUPS Gaharu, Indra Hasan, menyampaikan bahwa masyarakat kini mulai menyadari pentingnya menjaga hutan karena hutan bukan hanya sumber kayu, tetapi juga sumber ekonomi jangka panjang. Dengan menjaga kelestarian pohon gaharu, kayu putih, dan tanaman aromatik lainnya, masyarakat dapat terus memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus menebang hutan secara berlebihan.
Upaya menjaga keberlanjutan juga dilakukan melalui program penanaman bibit gaharu di kawasan hutan desa. LPHD Laban Nyarit bersama masyarakat telah menanam kurang lebih 500 bibit gaharu sebagai langkah menjaga kelangsungan ekosistem dan ketersediaan bahan baku di masa depan. Program ini menjadi bagian penting dari pengelolaan hutan berbasis masyarakat yang mengedepankan keseimbangan antara ekonomi dan konservasi lingkungan.
Meski demikian, pengembangan usaha minyak atsiri di Desa Laban Nyarit masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kendala utama adalah akses pasar yang masih terbatas. Produk minyak atsiri hasil produksi masyarakat belum sepenuhnya mampu menembus pasar nasional secara luas sehingga pemasaran masih bergantung pada pameran, pelatihan UMKM, dan jaringan mitra tertentu. Oleh karena itu, masyarakat berharap adanya dukungan lebih lanjut dalam hal branding produk, pemasaran digital, dan pengembangan kemasan agar produk minyak atsiri Laban Nyarit dapat bersaing di pasar yang lebih luas.
Walaupun menghadapi tantangan, masyarakat Desa Laban Nyarit tetap optimistis bahwa usaha minyak atsiri akan terus berkembang di masa mendatang. Produksi minyak kayu putih dan serai telah membuktikan bahwa hasil hutan bukan kayu dapat menjadi sumber ekonomi alternatif yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan sebagai sumber kehidupan mereka.
Baca juga:
Kunjungan Bunda Literasi Desa Ke Taman Baca Masyarakat “Muapalat” Menyalakan Semangat Membaca
Kunjungan Bunda Literasi Desa Ke Taman Baca Masyarakat “Muapalat” Menyalakan Semangat Membaca